pasang iklan banner 1045x250 pewarta network

H Tumaji Kembali Maju di Pilkades Kembang Pacitan, Serukan Kontestasi Tetap Damai

PACITAN, Gerbangrakyat.com – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Pacitan mulai memasuki tahapan akhir sosialisasi dan kampanye. Salah satu desa yang menjadi perhatian adalah Desa Kembang, Kecamatan Pacitan, yang memiliki luas wilayah 416,32 hektare dengan daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 2.034 orang.

Di tengah dinamika politik tingkat desa tersebut, H Tumaji kembali masuk dalam kontestasi Pilkades Kembang. Mantan kepala desa yang pernah menjabat selama dua periode itu mengaku tidak memiliki ambisi berlebihan untuk kembali menduduki jabatan kepala desa.

Namun, permintaan sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama membuatnya bersedia kembali maju. Keputusan itu diambil setelah muncul dorongan agar dirinya ikut berkompetisi di tengah situasi desa yang dinilai membutuhkan perubahan.

Berbekal Pengalaman Dua Periode

Sebagai salah seorang sesepuh Desa Kembang, H Tumaji dinilai memahami karakter serta dinamika masyarakat setempat. Pria yang memiliki tiga anak dan merupakan lulusan SMA 271 angkatan 1987 tersebut juga membawa pengalaman selama dua periode memimpin desa.

Pengalaman itu menjadi salah satu bekal dalam menghadapi kontestasi kali ini. Meski demikian, H Tumaji disebut tidak ingin Pilkades justru memicu ketegangan di tengah masyarakat.

Ia menawarkan enam poin visi dan misi sebagai landasan untuk kembali membangun Desa Kembang. Di sisi lain, ia menekankan pentingnya menjaga suasana desa agar tetap tenang selama proses pemilihan berlangsung.

Bagi H Tumaji, persaingan politik di tingkat desa semestinya tidak menjadi alasan bagi warga untuk terpecah belah.

Mengedepankan Strategi Benteng Pendem

Dalam menghadapi kontestasi Pilkades, H Tumaji disebut bergerak dengan mewarisi strategi Pangeran Diponegoro, yakni Benteng Pendem.

Strategi tersebut menjadi gambaran pendekatan yang dipilihnya dalam menghadapi persaingan. Alih-alih menjadikan Pilkades sebagai ajang yang memperuncing perbedaan, ia ingin menjaga dukungan masyarakat tanpa membuat situasi desa semakin gaduh.

Masyarakat Desa Kembang sendiri dinilai memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan masing-masing. Nilai-nilai keagamaan yang telah mengakar, termasuk pengaruh Tarekat Syattariyah, juga disebut menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat setempat.

Muncul Dugaan Intimidasi terhadap Pemilih

Di tengah proses menuju hari pemungutan suara, muncul dugaan adanya praktik yang berpotensi memengaruhi kebebasan warga dalam menentukan pilihan.

Sejumlah oknum ketua RT ditengarai membagikan surat suara sekaligus melakukan intimidasi agar warga memilih calon tertentu. Sasaran dugaan praktik tersebut disebut tidak hanya warga secara umum, tetapi juga masyarakat penerima bantuan sosial, seperti JPS, PKH, maupun bantuan tunai.

Informasi tersebut masih berupa dugaan yang disampaikan dalam keterangan warga. Karena itu, diperlukan klarifikasi lebih lanjut untuk memastikan kebenaran informasi serta pihak-pihak yang diduga terlibat.

Seorang warga Desa Kembang yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengungkapkan bahwa pencalonan kembali H Tumaji memunculkan dinamika yang sebelumnya tidak diperkirakan sebagian pihak.

“La pripun begitu pak Tumaji masuk, incamben langsung muter dari pintu ke pintu. Hal itu di luar prediksi mereka karena terlanjur sudah koar-koar selama dia masih maju nggak bakal ada yg berani maju,” tutur seorang warga Kembang yang enggan namanya ditulis media.

Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan situasi politik di tingkat desa setelah H Tumaji memutuskan kembali maju dalam Pilkades.

Menanti Pilkades yang Kondusif

Pilkades Desa Kembang menjadi ujian bagi kedewasaan politik masyarakat dalam menentukan pemimpin berikutnya. Dengan jumlah DPT mencapai 2.034 pemilih, setiap warga memiliki peran dalam menentukan arah kepemimpinan desa.

Kampanye terbuka dalam informasi yang dihimpun dijadwalkan pada 2 hingga 4 November 2024, sedangkan masa tenang disebut berlangsung pada 5 sampai 7 November. Pemungutan suara tercantum pada 8 November 2026.

Jadwal tersebut perlu dikonfirmasi kembali kepada panitia Pilkades karena terdapat perbedaan tahun antara jadwal kampanye dan hari pemungutan suara yang disebutkan.

Di tengah persaingan antarkandidat, pesan H Tumaji agar Desa Kembang tetap adem ayem menjadi salah satu hal yang mengemuka. Kontestasi politik di tingkat desa diharapkan tidak mengganggu hubungan antarwarga, terlebih setelah pemungutan suara selesai.

Pada akhirnya, Pilkades bukan semata-mata tentang siapa yang berhasil meraih suara terbanyak, melainkan juga bagaimana masyarakat dapat menjaga persaudaraan dan menerima hasil pemilihan secara dewasa.

Sebelumnya

Azerbaijan dan Polemik Jilbab, Ketika Sekularisme Berhadapan dengan Kebebasan Beragama

Selanjutnya

Daftar 38 Provinsi di Indonesia dan Ibu Kotanya, dari Aceh hingga Papua Barat Daya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gerbang Rakyat
pasang iklan banner 160x600 pewarta network
pasang iklan banner 160x600 pewarta network
banner pasang iklan 970x90 pewarta network