10 Fakta Letusan Gunung Krakatau 1883, Suaranya Terdengar hingga Ribuan Kilometer
Gerbangrakyat.com – Letusan Gunung Krakatau pada 1883 menjadi salah satu bencana vulkanik paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah. Erupsi yang terjadi di kawasan Selat Sunda tersebut tidak hanya menghancurkan wilayah di sekitar gunung, tetapi juga menimbulkan tsunami besar dan dampak atmosfer yang dirasakan hingga berbagai belahan dunia.
Peristiwa ini diperkirakan menewaskan lebih dari 36.000 orang. Besarnya letusan bahkan disebut berpengaruh terhadap suhu rata-rata Bumi pada tahun berikutnya.
Krakatau sendiri merupakan gunung api yang berada di Selat Sunda dan termasuk bagian dari kawasan Cincin Api. Dikutip dari Detik berikut sejumlah fakta penting mengenai letusan dahsyat Krakatau pada 1883.
1. Letusan 1883 Bukan Aktivitas Pertama Krakatau
Meski letusan 1883 menjadi peristiwa yang paling terkenal, Krakatau sebenarnya telah memiliki sejarah aktivitas vulkanik jauh sebelumnya.
Gunung tersebut diketahui pernah tertidur selama lebih dari 200 tahun sebelum kembali menunjukkan aktivitas besar pada 1883. Masyarakat Jawa bahkan telah mengenal Krakatau sebagai gunung api selama berabad-abad.
Sejumlah ahli juga memiliki hipotesis bahwa Krakatau pernah mengalami letusan besar pada abad ke-6. Letusan tersebut diduga memiliki dampak terhadap perubahan iklim secara global.
Catatan aktivitas Krakatau kembali muncul pada 1680. Ketika itu, pelaut Belanda melaporkan melihat letusan serta menemukan bongkahan batu apung di sekitar perairan. Bukti mengenai aliran lava dari periode tersebut kemudian ditemukan pada abad ke-19.
2. Erupsi Krakatau Berlangsung Selama Beberapa Bulan
Letusan besar pada 1883 bukan sebuah kejadian yang berlangsung hanya dalam hitungan jam. Aktivitas vulkanik Krakatau telah terlihat sejak beberapa bulan sebelumnya.
Pada Mei 1883, Krakatau menyemburkan abu dan uap hingga ketinggian sekitar 6 kilometer. Ledakannya begitu keras hingga terdengar dari jarak hampir 160 kilometer.
Aktivitas berlanjut pada Juni. Saat itu, letusan menghasilkan abu dalam jumlah besar yang membentuk awan hitam pekat dan menggantung di atas gunung selama beberapa hari.
Perubahan aktivitas gunung juga mulai terlihat di laut. Pasang surut air mengalami perubahan, sementara kapal-kapal melaporkan keberadaan batu apung di perairan sekitar Krakatau.
Puncak erupsi berlangsung pada 25 hingga 27 Agustus 1883. Dalam rangkaian peristiwa tersebut, sekitar 36.000 orang kehilangan nyawa.
3. Penelitian Rogier Verbeek Menjadi Catatan Penting
Besarnya dampak letusan Krakatau mendorong penelitian lebih mendalam mengenai bencana tersebut. Salah satu tokoh yang berperan penting adalah Rogier Verbeek, ahli geologi Belanda yang tinggal di Jawa.
Verbeek sebelumnya telah melakukan penelitian mengenai kondisi geologi kawasan tersebut. Setelah letusan Krakatau, ia mendatangi wilayah yang terdampak untuk melihat kehancuran secara langsung dan mengumpulkan kesaksian dari para saksi mata.
Hasil penelitian tersebut kemudian dituangkan dalam laporan setebal sekitar 550 halaman yang diterbitkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1885.
Data dan kajian dalam laporan Verbeek turut berkontribusi terhadap perkembangan ilmu vulkanologi modern. Dengan demikian, letusan Krakatau tidak hanya menjadi catatan bencana, tetapi juga menjadi objek penting dalam penelitian mengenai aktivitas gunung api.
4. Ledakan Krakatau Terdengar Hingga Ribuan Kilometer
Salah satu hal yang membuat letusan Krakatau begitu luar biasa adalah kekuatan suara yang dihasilkannya.
Pada pukul 10.02 pagi tanggal 27 Agustus 1883, ledakan besar terjadi pada tahap akhir erupsi. Suara tersebut terdengar hingga wilayah yang berjarak ribuan kilometer dari lokasi Krakatau, termasuk Australia Barat dan Mauritius.
Gelombang suara akibat letusan bahkan disebut mengelilingi dunia sebanyak tujuh kali dalam lima hari setelah peristiwa tersebut.
Besarnya jangkauan suara menunjukkan betapa kuatnya energi yang dilepaskan Krakatau pada fase puncak letusan.
5. Letusan Memicu Tsunami Besar
Dampak Krakatau tidak berhenti pada aktivitas vulkanik. Letusan tersebut juga memicu tsunami besar yang menghantam kawasan sekitar Selat Sunda.
Awan panas yang membawa material vulkanik menuju laut menjadi salah satu bagian dari rangkaian peristiwa yang menyebabkan tsunami. Gelombang yang dihasilkan diperkirakan mencapai sekitar 40 meter dan menghancurkan hingga 300 desa di sepanjang Selat Sunda.
Dampaknya bahkan terasa sangat jauh. Gelombang tsunami dilaporkan mengguncang kapal hingga mencapai wilayah Afrika Selatan.
Di tengah bencana tersebut, terdapat kisah mengenai kapal Gouverneur Generaal Loudon. Kapal yang sedang berlayar menuju Teluk Betung tersebut menghadapi letusan dan tsunami.
Kapten Johan Lindemann mengambil keputusan untuk mengarahkan kapal menghadapi gelombang tsunami, bukan mencoba mencari pelabuhan. Keputusan tersebut akhirnya menyelamatkan penumpang dan awak kapal.
6. Awan Panas Krakatau Menjadi Ancaman Mematikan
Selain tsunami, awan panas atau aliran piroklastik juga menjadi penyebab jatuhnya banyak korban.
Awan panas merupakan aliran pekat yang terdiri atas material seperti batu apung, abu vulkanik, gas panas, serta lava yang baru membeku. Material tersebut dapat bergerak dengan sangat cepat menuruni lereng gunung berapi.
Krakatau memiliki kondisi yang berbeda karena berada di sebuah pulau. Namun, awan panas dari letusan mampu bergerak melintasi laut dengan memanfaatkan uap yang sangat panas.
Material tersebut kemudian menghantam pulau-pulau di sekitar Krakatau serta kawasan garis pantai dengan kekuatan besar.
Diperkirakan sekitar 4.000 orang meninggal akibat terjangan awan panas yang menyapu daratan hingga beberapa kilometer.
7. Dampak Letusan Krakatau Terasa di Berbagai Belahan Dunia
Letusan Krakatau pada 1883 memiliki dampak yang melampaui kawasan Selat Sunda. Gunung tersebut memuntahkan jutaan meter kubik gas dan abu ke atmosfer.
Material vulkanik yang berada di atmosfer membentuk selubung awan dan disebut berkontribusi terhadap penurunan suhu rata-rata pada tahun berikutnya.
Perubahan atmosfer tersebut juga dikaitkan dengan peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah dunia. Selain itu, langit di berbagai tempat menampilkan pemandangan Matahari terbenam dengan warna merah yang mencolok.
Dampak visual tersebut bahkan melahirkan sebuah hipotesis mengenai karya seni terkenal Edvard Munch, The Scream. Latar belakang jingga dalam lukisan tersebut diduga mungkin terinspirasi oleh kondisi langit setelah letusan Krakatau yang dapat terlihat di berbagai wilayah dunia.
Dampak kemanusiaan dari bencana ini juga berlangsung lama. Mayat korban dilaporkan terdampar di sejumlah pantai di Indonesia, India, dan Afrika selama berbulan-bulan setelah letusan.
8. Pulau Krakatau Hampir Hancur
Besarnya energi yang dilepaskan Krakatau menyebabkan hampir seluruh Pulau Krakatau hancur. Sejumlah pulau di kepulauan sekitarnya juga terdampak.
Gunung berapi tersebut kemudian runtuh dan membentuk kaldera. Kaldera merupakan cekungan besar yang terbentuk setelah bagian gunung mengalami keruntuhan akibat kosongnya dapur magma.
Namun, kawasan tersebut tidak sepenuhnya berhenti menunjukkan aktivitas vulkanik. Pada 1927, muncul pulau baru dari kaldera yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.
Pulau tersebut terus tumbuh secara perlahan. Aktivitas Anak Krakatau juga kemudian dikaitkan dengan tsunami mematikan pada 2018 yang dipicu oleh runtuhnya bagian gunung ke bawah laut.
9. Kawasan yang Hancur Kemudian Menjadi Kawasan Konservasi
Letusan Krakatau dan tsunami menyebabkan sebagian besar wilayah barat Pulau Jawa mengalami kehancuran. Kawasan tersebut dihantam tsunami, tertutup abu, dan kehilangan banyak penduduk.
Setelah ditinggalkan, sejumlah dataran rendah di wilayah terdampak secara perlahan kembali menjadi kawasan alami. Flora dan fauna kemudian berkembang di wilayah tersebut.
Cagar Alam Ujung Kulon secara resmi didirikan pada 1957. Kawasan konservasi tersebut kini mencakup area sekitar 1.206 kilometer persegi.
Perubahan kawasan terdampak bencana menjadi habitat alami menjadi salah satu bagian lain dari sejarah panjang yang mengikuti letusan Krakatau.
10. Aktivitas Krakatau Masih Menjadi Perhatian
Letusan 1883 bukan berarti aktivitas vulkanik di kawasan Krakatau berakhir. Banyak ahli vulkanologi masih menaruh perhatian terhadap aktivitas gunung api tersebut.
Gunung Krakatau yang lama memang telah runtuh, tetapi Anak Krakatau tetap menjadi bagian dari sistem vulkanik yang perlu diperhatikan.
Potensi risiko juga berkaitan dengan kondisi masyarakat di sekitar kawasan. Kedekatan rumah dan desa dengan garis pantai membuat masyarakat di wilayah tersebut rentan terhadap dampak apabila terjadi aktivitas vulkanik yang kembali memicu tsunami.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena sistem peringatan dini tsunami yang belum memadai dapat meningkatkan risiko bagi masyarakat pesisir.
Letusan Krakatau 1883 dan Warisannya
Letusan Gunung Krakatau 1883 memperlihatkan bagaimana sebuah bencana vulkanik dapat menghasilkan dampak berlapis. Erupsi tidak hanya menghancurkan pulau dan permukiman, tetapi juga memicu tsunami, menghasilkan awan panas, memengaruhi atmosfer, serta meninggalkan dampak yang tercatat hingga ribuan kilometer dari pusat letusan.
Peristiwa tersebut juga memberikan kontribusi terhadap perkembangan penelitian gunung api melalui kajian Rogier Verbeek. Sementara itu, kemunculan Anak Krakatau menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik di kawasan tersebut belum benar-benar berakhir.
Lebih dari satu abad setelah letusan 1883, Krakatau tetap menjadi salah satu peristiwa vulkanik paling penting dalam sejarah karena besarnya korban, luasnya dampak, dan pengaruhnya terhadap perkembangan pemahaman manusia mengenai gunung api.




















