pasang iklan banner 1045x250 pewarta network
Beranda Berita Kisah Rangga, Bocah Pacitan yang Harus Menaklukkan Bukit Terjal Sepulang Sekolah
Berita

Kisah Rangga, Bocah Pacitan yang Harus Menaklukkan Bukit Terjal Sepulang Sekolah

Gerbangrakyat.com – Pacitan — Di tengah semarak peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sebuah pemandangan sederhana dari kawasan Sambong, Pacitan Utara, menghadirkan cerita berbeda tentang arti kemerdekaan bagi anak-anak di pelosok.

Sekitar pukul 12.45 WIB, terik matahari menyengat ketika Rangga Rahardian, siswa kelas 6 SD Sambong 1, berjalan menuruni sekaligus melewati perbukitan dengan kondisi jalan berdebu. Peluh membasahi tubuhnya setelah ia menempuh perjalanan yang menjadi rutinitas hampir setiap hari.

Rangga harus melewati jalur perbukitan dengan kemiringan yang disebut nyaris mencapai 76 derajat. Jalan tanah tersebut membentang hampir dua kilometer dan menjadi bagian dari rute yang harus dilaluinya untuk berangkat maupun pulang sekolah.

Di bawah panas matahari, seorang pewarta yang melihat Rangga kemudian menyapanya.

“Le, kamu mau kemana. Ini pergi opo pulang sekolah,” tanya seorang pewarta media. “Lha, kok panas-panas begini jalan. Emang tidak ada yang jemput hari ini?” sambungnya.

“Sampun (sudah) biasa jalan begini. Kakung (kakek) kalau siang nyari rumput. Kalau pagi bisa antar,” jawab Rangga sambil menyeka keringat yang berebut meluruh di sekujur tubuhnya.

Percakapan singkat itu memperlihatkan bagaimana perjalanan menuju sekolah telah menjadi bagian dari keseharian bocah tersebut. Saat pagi hari, sang kakek masih dapat mengantarnya. Namun ketika pulang sekolah pada siang hari, Rangga harus berjalan sendiri karena kakeknya mencari rumput.

“Kok kakung?” tanya pewarta.

“Iya, ayah kerja di Jakarta,” masih dengan nafas terengah.

Jarak dan kondisi medan rupanya bukan alasan bagi Rangga untuk berhenti bersekolah. Ia tetap berjalan meski panas menyengat dan permukaan jalan berdebu.

Melihat kondisi tersebut, pewarta kemudian menawarkan tumpangan sepeda.

“Ayo sini, ikut sepeda saya. Kebetulan saya mau ke arah jembatan yang sedang di bangun,” ajak pewarta.

“Mboten pak, terimakasih.”

“Udah ayo ikut … ” setengah memaksa.

Rangga akhirnya bersedia. Dalam perjalanan, diketahui bahwa bocah tersebut merupakan siswa kelas 6 SD Sambong 1.

“Kamu kelas berapa, to?”

“Kelas 6 SD Sambong 1”, jawabnya. Melamun, tercenung. Disergap kenyataan.

Perjalanan Rangga menjadi gambaran lain dari perayaan kemerdekaan yang berlangsung di berbagai tempat. Ketika masyarakat merayakan 81 tahun Indonesia merdeka dengan berbagai kegiatan, masih ada anak-anak yang harus menempuh perjalanan berat untuk mendapatkan pendidikan.

Bukan hanya Rangga. Kisah serupa juga tergambar dari keberadaan siswa-siswi lain yang disebut harus melewati jembatan kawat untuk menuju sekolah. Bagi mereka, perjalanan menuju ruang kelas bukan sekadar rutinitas, melainkan perjuangan yang dilakukan berulang kali.

Rangga mungkin belum memahami sepenuhnya makna kemerdekaan maupun berbagai persoalan besar yang melingkupi negeri ini. Ia juga belum tentu mengetahui berbagai kasus korupsi dan persoalan pengelolaan sumber daya alam yang kerap menjadi pembicaraan publik.

Harapannya justru jauh lebih sederhana.

Ia ingin jalan menuju sekolah tidak lagi dipenuhi debu ketika musim kemarau dan berubah menjadi lumpur saat hujan. Ia juga berharap ayahnya yang bekerja di Jakarta suatu hari dapat memperoleh pekerjaan di daerah sehingga bisa lebih dekat dan menemaninya menjalani aktivitas sehari-hari.

Keinginan itu sederhana, tetapi menggambarkan kebutuhan mendasar seorang anak untuk mendapatkan akses pendidikan yang aman dan layak.

Di penghujung perjalanan sore itu, bendera merah putih tampak melambai lemah di puncak Sambong, Pacitan Utara. Di tengah perayaan kemerdekaan, kisah Rangga mengingatkan bahwa makna merdeka bagi sebagian anak mungkin bukan tentang kemeriahan upacara atau perlombaan, melainkan tentang dapat bersekolah tanpa harus menaklukkan jalan yang berat setiap hari.

Bagi Rangga, kemerdekaan mungkin sesederhana jalan yang tidak berdebu, tidak berlumpur, dan seorang ayah yang bisa berada lebih dekat dengan keluarganya.

Sebelumnya

Serapan Anggaran Disperkimtan Pacitan Baru 9,23 Persen, Ratusan Proyek Jalan Lingkungan Ikut Tersendat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gerbang Rakyat
pasang iklan banner 160x600 pewarta network
pasang iklan banner 160x600 pewarta network
banner pasang iklan 970x90 pewarta network