129 Rumah Adat Sade Lombok Terbakar, Pemerintah Siapkan Pemulihan
Gerbangrakyat.com – Kebakaran melanda Kampung Adat Sade di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (22/8/2026) malam. Kobaran api menghanguskan ratusan bangunan rumah adat yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Sasak.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 22.00 Wita. Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebanyak 129 rumah adat Sade terdampak dan ludes terbakar. Besarnya kebakaran membuat proses penanganan melibatkan warga, pemerintah daerah, TNI, dan Polri.
Selain menangani dampak langsung kebakaran, pemerintah kini mulai menyiapkan langkah pemulihan, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar warga serta rencana pembangunan kembali rumah adat yang rusak.
Kampung Adat Sade Bukan Sekadar Permukiman
Kampung Adat Sade berada di Desa Rambitan dan selama puluhan generasi menjadi ruang hidup masyarakat Sasak. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu tempat yang masih mempertahankan tradisi, bentuk rumah, serta tata kehidupan masyarakat leluhur.
Karakteristik bangunan menjadi salah satu faktor yang membuat kebakaran di kawasan tersebut berdampak luas. Rumah adat Sade umumnya menggunakan jerami sebagai bagian bangunan dan dinding dari anyaman bambu atau bedek.
Lantainya juga memiliki karakteristik tersendiri, yakni dibuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau serta abu jerami.
Kebakaran pada Sabtu malam itu akhirnya tidak hanya merusak tempat tinggal warga, tetapi juga menghanguskan bagian dari kawasan yang selama ini menjadi representasi kehidupan tradisional masyarakat Sasak.
Api Muncul Saat Warga Sedang Terlelap
Kepala Desa Rambitan Lalu Winakse mengatakan proses pemadaman dilakukan secara intensif setelah kebakaran terjadi. Pemerintah desa juga berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mengevakuasi warga yang tinggal di kawasan rumah adat tersebut.
“Kejadian kebakaran sekitar pukul 22.00 Wita. Saya sedang di TKP,” kata Lalu Winakse dilansir dari Antara, Minggu (23/8/2026).
Kesaksian warga menggambarkan cepatnya kebakaran menyebar pada malam tersebut. Amaq Imi mengatakan api muncul secara tiba-tiba ketika warga sedang tertidur.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga maupun perlengkapan rumah tangga.
“Kami berharap adanya bantuan dari pemerintah, karena tidak ada barang yang bisa diselamatkan, hanya pakaian yang saya gunakan ini saja,” kata Amaq.
Barang yang ikut terbakar di antaranya kain tenun, uang, dan telepon seluler milik warga.
Pemerintah Prioritaskan Keselamatan dan Kebutuhan Warga
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal langsung meninjau lokasi kebakaran. Pemerintah daerah menyatakan kebutuhan dasar warga menjadi perhatian utama setelah rumah mereka dilalap api.
“Yang paling penting saat ini adalah bagaimana seluruh masyarakat dan warga dalam keadaan selamat,” ujar Lalu Muhamad Iqbal di lokasi kebakaran, dilansir Antara, Minggu (23/8/2026).
Iqbal menegaskan kebutuhan warga yang kehilangan rumah harus segera ditangani. Pemerintah daerah akan memperhatikan kebutuhan sandang, pangan, keamanan, hingga aktivitas sosial ekonomi masyarakat terdampak.
“Yang pertama sekarang dan harus cepat adalah bagaimana kebutuhan dan rasa aman masyarakat yang rumahnya terbakar kita perhatikan. Kebutuhan sandang, pangan, dan aktivitas sosial ekonomi mereka harus kita pastikan,” tegas Iqbal.
Tidak hanya kebutuhan orang dewasa, keberlangsungan pendidikan anak-anak di Kampung Adat Sade juga menjadi perhatian pemerintah. Anak-anak yang terdampak diupayakan tetap dapat menjalani aktivitas pendidikan selama proses penanganan berlangsung.
“Anak-anak kita pastikan pendidikannya tidak terganggu,” tegasnya.
129 Rumah Adat Disiapkan untuk Dibangun Kembali
Kerusakan akibat kebakaran membuat pemerintah daerah mulai memikirkan tahap pemulihan jangka panjang. Sebanyak 129 rumah adat yang terbakar direncanakan untuk direkonstruksi.
Gubernur NTB menyebut pembangunan kembali perlu dilakukan karena Kampung Adat Sade memiliki posisi penting sebagai ikon budaya masyarakat Sasak.
“Saya akan segera berkomunikasi dengan Bupati Lombok Tengah untuk mengambil langkah cepat dan tepat. Nanti kami pikirkan bagaimana merekonstruksi kembali Desa Adat Sade,” ungkap Iqbal dilansir detikBali, Minggu (23/8/2026).
Informasi awal menyebut api diduga pertama kali muncul dari salah satu rumah warga. Kobaran kemudian membesar dan berpotensi merembet ke bangunan lain yang berada di kawasan tersebut.
Untuk saat ini, pemerintah masih memusatkan perhatian pada keselamatan warga dan pemenuhan kebutuhan dasar sebelum memasuki tahap rekonstruksi secara lebih luas.
Polisi Belum Ungkap Penyebab Kebakaran
Di tengah penanganan korban, kepolisian masih menyelidiki penyebab kebakaran. Tim gabungan dari Polda NTB dan Polres Lombok Tengah telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Puluhan personel Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Polda NTB dan Polres Lombok Tengah diterjunkan untuk mengumpulkan informasi di lokasi. Polisi juga mendokumentasikan area kebakaran serta meminta keterangan dari saksi dan korban.
Garis polisi telah dipasang di sekitar lokasi yang terbakar untuk mendukung proses penyelidikan.
Kapolres Lombok Tengah Kombes Hariyanto mengatakan pemeriksaan dilakukan oleh tim gabungan dari Polda NTB dan Polres Lombok Tengah. Kepolisian juga berencana meminta bantuan dari Bali dalam proses penyelidikan.
“Iya, ini tim gabungan dari Polda dan Polres. Kemudian rencananya kami meminta backup dari Bali,” kata Kapolres Lombok Tengah Kombes Hariyanto kepada detikBali saat meninjau lokasi kejadian, Minggu (23/8/2026).
Hingga Minggu, polisi belum dapat memastikan sumber maupun penyebab pasti kebakaran. Kesimpulan mengenai penyebab kejadian masih menunggu hasil pemeriksaan tim di lapangan.
“Sampai sekarang belum. Nanti menunggu hasil dari tim ini ya,” tegasnya.
Sekitar 100 personel gabungan TNI-Polri dan pemerintah daerah telah dikerahkan sejak malam kejadian hingga proses penanganan pada Minggu. Personel tersebut membantu evakuasi warga sekaligus menjaga keamanan di sekitar lokasi.
Kebakaran Kampung Adat Sade kini memasuki tahap penanganan dan penyelidikan. Di sisi lain, rencana rekonstruksi 129 rumah menjadi langkah awal untuk memulihkan kembali kawasan adat yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Sasak.
















